| Garuda di Dadaku |
|
|
|
| Resensi | ||||||
| Jumat, 12 Juni 2009 14:52 | ||||||
![]() Impian itu datang dari Bayu (Emir Mahira), seorang bocah kelas VI SD yang bermimpi menjadi anggota tim nasional sepak bola U-13 tahun. Dalam benaknya, betapa bangganya ia, ibu, dan kakeknya, ketika melihatnya menjadi wakil dari jutaan anak Indonesia berlaga di arena sepak bola sambil mengenakan kaus berlambang garuda di dadanya. Adakah mimpinya itu bisa terbeli? Sayang! Keinginannya itu justru berbanding terbalik dengan ambisi sang kakek, Usman (Ikranagara). Bagi Usman, kelak, cucunya harus menjadi seorang seniman bergengsi. Sepak bola bukanlah tempat yang layak buat cucunya. Ia lantas memasukkan Bayu ke sejumlah kegiatan les, yang diyakininya cocok buat cucu kesayangannya itu. Dari mulai les musiklah, hingga melukis. Namun begitulah, apa pun yang dilakukan tanpa didasari cinta, hanyalah sebuah ilusi. Cinta mati Bayu justru pada sepak bola. Sebuah dunia yang diperkenalkan mendiang ayahnya, saat ia masih hidup. Namun, Usman tak mau itu terjadi. Haram bagi cucunya untuk mencintai sepak bola. Dunia, yang menurut Usman, terasa hina. Di Indonesia, sepak bola bukanlah tempat yang bisa memberikan janji. "Pemain bola itu tidak bermutu. Tidak elite. Apalagi di Indonesia, jadi penonton saja bisa mati!" seru Usman kepada cucunya. "Sekali lagi kamu ngomong bola, kamu bukan cucu aku lagi!" ancamnya saat Usman mengetahui cucunya bersinggungan lagi dengan bola. Konflik inilah yang kemudian meluncur apik. Terjaga dari awal hingga ujung kisah. Ya, Bayu bukanlah tipe anak loyo, yang gampang menyerah. Keinginan besarnya telah meruntuhkan ambisi sang kakek. Di hadapan sang kakek, ia bak anak yang penurut, tapi di balik itu, ia justru melakukan sebuah pemberontakan. Adalah Heri (Aldo Tansani), sahabatnya, yang meyakini bakat kuat yang dimiliki Bayu. Heri-lah yang mendorong Bayu untuk "berselingkuh" dari kegiatan les yang dijalaninya. Heri jugalah yang setia memfasilitasi semua kebutuhan Bayu untuk mencapai mimpinya. Beralih sejenak kepada sosok Heri. Kehadirannya juga menjadi bagian yang menarik dan tak bisa dianggap enteng. Penulis skenario Salman Aristo memberi porsi lebih kepada sosoknya. Heri digambarkan sebagai anak yang unik. Dia cerdas, punya semangat yang tinggi dan motivator ulung meski memiliki keterbatasan fisik. Bersama Bayu, ia menjadi bagian yang tak terpisahkan. Bagi Heri, kecintaannya pada dunia sepak bola tak bisa terlampiaskan lantaran kakinya lumpuh. Namun, dari sosok Bayulah, ia melihat kekuatan itu. Klop! Inilah sebuah kisah persahabatan yang manis. Mereka saling mengisi meski datang dari latar belakang yang berbeda pula. Pada akhirnya, menyaksikan film layar lebar perdana sutradara Ifa Isfansyah, kita digiring kembali untuk memaknai sejumlah nilai-nilai hidup, yang boleh jadi, telah dilupakan oleh kebanyakan orang, tak terkecuali saya, juga anda. Sosok Usman, yang cenderung bersikap kolot dan cenderung memaksakan kehendaknya kepada cucunya, menjadi gambaran dari diri kita, yang kadang menuntut banyak dari anak-anak. Atas nama kebaikan, orang tua kerap memaksakan kehendaknya sendiri. Ia lupa bahwa anak-anak juga punya kehidupan sendiri, yang berhak untuk bisa memilih. Ini pula yang berlaku kepada sosok Zahra (Marsha Aruan), bocah perempuan yang misterius. Ia terjebak di antara kehidupan keluarga yang berantakan. Ia dibawa kabur ayahnya dan memilih menetap di sebuah gubuk reyot di sebuah kawasan kuburan tua. Padahal Zahra masih punya mimpi untuk bisa sekolah. Meski begitu ia tetap tabah. Garuda Di Dadaku, menyajikan sebuah cerita yang sederhana namun bernas. Mengisahkan pertarungan dua kepentingan antara dua generasi. Olahraga sepakbola, menjadi cantolan untuk mengaitkan tema besar tersebut. Diramu dengan begitu apik. Didukung permainan yang gemilang, plot cerita yang matang, cinematografi dan editing yang terjaga. Hasilnya? Garuda Di Dadaku tak ubahnya sebuah masakan yang racikan bumbunya terasa pas. Ada haru, kadang juga tawa. Pada bagian ini, apresiasi, lagi-lagi layak diberikan kepada Ramzi, yang kali ini berperan sebagai Bang Duloh. Suntikan kekuatan juga datang dari soundtrack film, yang begitu penuh warna dihadirkan pasangan suami istri penata musik Aksan Sjuman dan Titi Sjuman. Music Score yang mereka hadirkan membawa penontonnya pada suasana batin yang riuh. Hal ini makin terasa dihadirkan lewat agu Garuda Di Dadaku, yang notasinya mengambil lagu daerah asal Papua, Apuse, yang diaransemen dan dibawakan grup rock Netral. Ia berhasil membangun suasana yang terasa bergelora mengiringi semangat Bayu dalam menggapai mimpinya. Syukurlah, setelah Laskar Pelangi, kini hadir tontonan bioskop yang memang layak disimak anak-anak Indonesia. (EH) (tim adangdaradjatun.com/kompas.com)
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved." |
Perspektif
Pendekatan Holistik RUU KeimigrasianKamis, 22 Juli 2010 Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies Dewan... |
Oprah, Akhir Sebuah Era?Senin, 23 November 2009 ![]() By Kevin ConollyKetika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis ... |
Ubi Cilembu Potensi Pangan Lokal yang Populer di Pasar InternasionalMinggu, 22 November 2009 ![]() Ubi jalar dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan ki... |
Kiamat "2012" (Hanya) di FilmSenin, 16 November 2009 ![]() Kiamat itu sudah dekat? Apa jadinya bila bumi yang selama ini kita pijak tiba-tiba amblas dan hilang tertelan air laut? Mulai dari rumor sampai data-data ilmiah sert... |
Budaya Air di SundaSabtu, 14 November 2009 Oleh Jakob Sumardjo ... |
Tentang Gempa di Masa IslamRabu, 11 November 2009 ![]() Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat ... |
Serigala Terakhir, Konflik untuk Pendewasaan MasyarakatKamis, 5 November 2009 ![]() Di sebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan ... |
Film Epik Nabi Muhammad Akan DibuatSelasa, 3 November 2009 ![]() DOHA - Sebuah film epik tentang Nabi Muhammad akan segera dibuat. Tak tanggung-tanggung, rencananya film yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang arti sebenarnya Islam itu akan diproduseri oleh ... |
Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi NuhSabtu, 31 Oktober 2009 Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar ... |
Memberdayakan Pendidikan Seni SundaRabu, 28 Oktober 2009 Oleh Djasepudin Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan ... |
Emak Ingin Naik HajiRabu, 28 Oktober 2009 ![]() Jika tak ada aral, November mendatang satu lagi karya film berbalut tema religi menyerbu bioskop. Film berjudul Emak Ingin Naik Haji ini nantinya akan menjadi film yang akan menambah semar... |
Islam dalam Pandangan BaratSelasa, 27 Oktober 2009 Nikolaos van Dam(Duta Besar Belanda untuk Indonesia)Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa ... |
Optimisme Generasi MudaSelasa, 27 Oktober 2009 Oleh Azyumardi AzraHari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai ... |
Membangun Kembali Nasionalisme Kaum MudaSelasa, 27 Oktober 2009 Muhammadun AS(Peneliti Cepdes Jakarta)Hai pemuda dan pemudi, engkau pembina hari kemudian. Orang mengatakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian. Jangan terima! Kita ini bukan sekadar pupuk. Kami lebih dari ... |
Ruma Maida: Perjuangan Mendidik Anak JalananSenin, 26 Oktober 2009 ![]() Cerita bermuara pada perjuangan Maida.Ia ingin mempertahankan rumah tua tempatnya mendidik anak-anak jalanan di ibukota. Di film, Maida digambarkan sebagai gadis kikuk yang idealis. Bertah... |
|
||













