Film "Salami Aleikum", Dongeng Oriental di Jerman Timur PDF Cetak E-mail
Resensi
Jumat, 07 Agustus 2009 16:08

Seorang montir perempuan dari Jerman Timur menggendong kekasihnya dari Iran. Adegan semacam itu saat ini cuma bisa dilihat melalui sebuah film, yaitu film komedi romantik "Salami Aleikum" yang mencoba mempertautkan dua budaya yang berbeda dalam sebuah dunia paralel.

Mohsen (Navid Akhayan), seorang pemuda Jerman berdarah Iran diharapkan menjadi pemotong hewan dan meneruskan bisnis ayahnya sebagai pemilik toko daging di Köln. Namun Mohsen tak tega membunuh hewan. Karena itu ia mau dibujuk pergi melakukan bisnis yang tidak jelas di Polandia.

Tapi perjalanannya terhenti di Oberniederwalde, di sebuah provinsi terpencil di Jerman Timur. Di sana ia jatuh cinta pada Ana (Anna Böger). Ana adalah atlet tolak peluru terkenal di era Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur). Perawakannya lebih tinggi dari Mohsen yang cenderung kerempeng.

Dua dunia yang berbeda berbenturan dalam hubungan Mohsen dan Ana. Tapi mereka memiliki satu kebersamaan: keduanya mencari tempat mereka di sebuah masyarakat. Ini adalah pesan film tersebut, kata sutradara Ali Samadi Ahadi. "Sejak 25 tahun saya hidup di Jerman. Dan sejak itu saya selalu dibayangi keinginan mencari tanah air saya dan pertanyaan 'Saya termasuk masyarakat yang mana?' Melalui cara tertentu saya mencoba mengolah tema ini dalam film tersebut."

Ahadi menangani tema itu dengan sentuhan yang penuh warna dan kadang-kadang lain dari cara yang lazim dipakai. Jika protagonis lenyap dalam mimpi siang hari atau tenggelam dalam masa lalunya, figur komik dengan warna mencolok muncul berkelap-kelip di layar putih, diikuti suara yang terdengar bagaikan dalam sebuah dongeng. Suara itu selalu mengungkapkan dunia perasaan Mohsen dan Ana.

Tak ada klise yang terabaikan

Kisah cinta sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Kebahagian kedua protagonis didasari oleh kebohongan terpaksa. Karena Ana seorang vegetarian, Mohsen, bakal jagal, mengaku sebagai seorang pedagang tekstil. Dengan demikian Mohsen membangunkan harapan orang-orang di desa itu untuk menyelamatkan pabrik pakaian yang terpuruk dari era Republik Demokratik Jerman. Semua warga desa bermanis budi terhadap pria muda Jerman-Iran itu, terutama ayah Ana, bekas direktur pabrik tekstil.

Dalam penggambaran keadaan di pedesaan itu film "Salami Aleikum" tidak menyisakan satu klise pun mengenai provinsi Jerman Timur. Justin anggota sebuah gang kaum muda memacu sepeda kumbangnya melewati jalan-jalan penuh lubang, rumah-rumah makan yang suram berfungsi sebagai panggung tempat terjadinya peristiwa-peristiwa terbaru. Semuanya itu merupakan klise yang sudah dikenal, namun justru karena itu menimbulkan kesan.

Hal ini juga terlihat pada adegan-adegan yang kelihatannya ganjil. Misalnya, waktu orangtua Ana duduk di sofa di kamar tamu dan langsung menyapa penonton. "Saya tidak anti orang asing – saya tidak mau orang salah mengerti", tegas ayah Ana. Dan isterinya (Eva-Maria Radoy) menegaskan: Orang harus selalu ramah, itu sudah jelas sekali.

Tetapi jika orang terlalu ramah, mereka salah mengerti. Lalu mereka menjemput seluruh keluarga besarnya untuk tinggal di sini. Dan kami di sini akhirnya punya kampung Asia… Tetapi setidaknya ia bukan seorang "Wessi!" (sebutan bagi warga Jerman Barat, red.)

Showdown dalam gaya Bollywood

Perlahan-lahan kisah cinta antara Ana dan Mohsen bergeser ke belakang dan motif pencarian tanah air semakin kuat. Ini terutama terlihat pada figur ayah Mohsen dan ayah Ana. Ayah Mohsen dulunya adalah jenderal ketika Syah Iran masih berkuasa dan ayah Ana bekas seorang pejabat di era Republik Demokrat Jerman.

Keduanya meratapi kejayaan masa lalu. Dalam sebuah adegan penutup yang penuh dengan patos, kedua ayah itu bertemu di sebuah jembatan dan mengakui bahwa mereka harus menghadapi kenyataan hidup.


Bukanlah kebetulan jika film "Salami Aleikum" justru meletakkan jalan nasib warga Jerman Timur berdampingan dengan nasibnya warga Iran. Sutradara film, Ahadi mengungkapkan rona "keterasingan" yang menghinggapi sebagian orang di lingkungannya sendiri. " Hal itu Karena lingkungan tempat mereka tumbuh, lenyap, apakah itu melalui kehidupan di pengasingan atau pun karena bersatunya Jerman Barat dan Timur." ujarnya. "Kehidupan paralel inilah yang saya angkat dalam film ini.“

Kehidupan paralel yang dimaksudkan memang mengemuka, meskipun baru saat menjelang akhir film. Ahadi berhasil mengangkat tema berat yang mendasar dan mengubahnya menjadi sebuah komedi yang mengalir lancar. Ini tentu juga karena ia telah menemukan pemain yang cocok untuk peranannya. Namun, semakin berdekatan dunia Iran dari Mohsen dengan dunia Jerman Timur dari Ana, alur cerita semakin hanyut ke arah khayalan.

Pada akhir film semua orang menari dengan diiringi musik Bollywood India di alun-alun desa di Jerman Timur. Walau adegan menyenangkan itu kelihatan aneh, pada dasarnya film itu meninggalkan kesan bahwa keharmonisan itu hanya merupakan sebuah eksperimen dalam pemikiran. Artinya, diinginkan tetapi utopis.

(tim adangdaradjatun.com, s: qantara, Regina Mennig, Alih bahasa oleh Christa Saloh-Foerster)


AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Perspektif

Pendekatan Holistik RUU Keimigrasian

Kamis, 22 Juli 2010

Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies   Dewan...

Oprah, Akhir Sebuah Era?

Senin, 23 November 2009

News image

By Kevin ConollyKetika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis ...

Ubi Cilembu Potensi Pangan Lokal yang Populer di Pasar Internasional

Minggu, 22 November 2009

News image

Ubi jalar dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan ki...

Kiamat "2012" (Hanya) di Film

Senin, 16 November 2009

News image

Kiamat itu sudah dekat? Apa jadinya bila bumi yang selama ini kita pijak tiba-tiba amblas dan hilang tertelan air laut? Mulai dari rumor sampai data-data ilmiah sert...

Budaya Air di Sunda

Sabtu, 14 November 2009

Oleh Jakob Sumardjo ...

Tentang Gempa di Masa Islam

Rabu, 11 November 2009

News image

Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat ...

Serigala Terakhir, Konflik untuk Pendewasaan Masyarakat

Kamis, 5 November 2009

News image

Di sebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan ...

Film Epik Nabi Muhammad Akan Dibuat

Selasa, 3 November 2009

News image

DOHA - Sebuah film epik tentang Nabi Muhammad akan segera dibuat. Tak tanggung-tanggung, rencananya film yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang arti sebenarnya Islam itu akan diproduseri oleh ...

Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Sabtu, 31 Oktober 2009

Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar ...

Memberdayakan Pendidikan Seni Sunda

Rabu, 28 Oktober 2009

Oleh Djasepudin Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan ...

Emak Ingin Naik Haji

Rabu, 28 Oktober 2009

News image

Jika tak ada aral, November mendatang satu lagi karya film berbalut tema religi menyerbu bioskop. Film berjudul Emak Ingin Naik Haji ini nantinya akan menjadi film yang akan menambah semar...

Islam dalam Pandangan Barat

Selasa, 27 Oktober 2009

Nikolaos van Dam(Duta Besar Belanda untuk Indonesia)Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa ...

Optimisme Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Oleh Azyumardi AzraHari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai ...

Membangun Kembali Nasionalisme Kaum Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Muhammadun AS(Peneliti Cepdes Jakarta)Hai pemuda dan pemudi, engkau pembina hari kemudian. Orang mengatakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian. Jangan terima! Kita ini bukan sekadar pupuk. Kami lebih dari ...

Ruma Maida: Perjuangan Mendidik Anak Jalanan

Senin, 26 Oktober 2009

News image

Cerita bermuara pada perjuangan Maida.Ia ingin mempertahankan rumah tua tempatnya mendidik anak-anak jalanan di ibukota. Di film, Maida digambarkan sebagai gadis kikuk yang idealis. Bertah...