Film Sepuluh: Mencari Cinta dalam Ketidaksempurnaan Hidup di Jakarta PDF Cetak E-mail
Resensi
Selasa, 12 Mei 2009 10:04


Menggeliatnya perfilman Indonesia sudah tentu membawa dampak yang positif. Satu hal yang bisa dibanggakan adalah munculnya beragam tema yang diangkat ke dalam film. Tema sosial dengan balutan drama yang kuat, boleh jadi menjadi salah satu yang perlahan-lahan muncul.

Hal tersebut terbukti dengan munculnya satu produk dari First Media Production. Film yang disutradarai Henry Riady ini, bertema fenomena sosial  maraknya perdagangan anak di bawah umur. Dalam ceritanya, selain diniatkan sebagai komoditi seksual, perdagangan anak juga disinyalir menjadi mata rantai dari penjualan organ tubuh ke seantero dunia.

Tidak hanya menyorot seputar penculikan anak dari sisi kriminal, film Sepuluh ini juga menampilkan unsur drama yang kuat. Hal itu ditunjukkan dengan keberadaan seorang perempuan tegar yang diperankan oleh Rachel Maryam, yang mengalami banyak cobaan sepanjang hidupnya. Suaminya yang seorang pecandu Narkoba, menjual putri mereka yang belum berusia satu tahun kepada seorang cukong. Belum cukup, sang suami juga memfitnah dirinya memakai narkoba.

Ternyata hidup tak harus sempurna untuk menemukan cinta yang sempurna. Pesan ini yang coba dituangkan sineas muda Henry Riady (19) dalam karya perdananya yang bertajuk Sepuluh. Lebih jauh ia menambahkan bahwa kesempurnaan cinta, justru terletak pada keikhlasan serta tekad kita untuk berjuang dan bangkit dari keterpurukan dalam menjalani hidup yang jauh dari sempurna 

Lewat mata kameranya, Henry memotret pergulatan hidup Yanti (Rachel Maryam) yang bekerja sebagai buruh cuci di perkampungan kumuh Jakarta, kehidupan anak jalanan dan dunia hitam. Sepuluh tahun lalu, Yanti masuk penjara akibat jebakan yang dipasang Aditya (Mario Tanzala), suaminya yang juga seorang pecandu narkoba. Ini pukulan kedua yang harus diterima Yanti setelah Maria, putri semata wayang hilang bagai ditelan bumi. 

Usai menjalani masa tahanan, Yanti berusaha membangun kembali hidupnya. Meski berusaha tegar, Yanti tidak bisa menghilangkan kenangan akan Maria. Kotak musik dan foto-foto Maria menjadi pilar bagi Yanti untuk melanjutkan hidup, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mongki (Yofana), gadis cilik yang dijadikan pengemis dan pengamen jalanan oleh Dargo (August Melasz), preman kelas kakap yang merajai kawasan itu. 

Dekat dengan Mongki membuat Yanti sadar akan eksploitasi anak dan penjualan organ ilegal yang dilakukan Dargo. Karena satu per satu anak-anak jalanan menghilang tanpa jejak, Yanti mulai ketakutan Mongki akan menjadi korban selanjutnya. Ketakutan serupa juga menghantui Thomas (Ari Wibowo), mantan kekasih Yanti. David, anak tunggalnya menderita kelainan ginjal. Satu-satunya cara menyelamatkan David adalah dengan melakukan transplantasi ginjal. Donor ginjal yang diharapkan tak kunjung datang dan Thomas berperang dengan waktu. 

Dalam kondisi putus asa, Thomas akhirnya mendatangi Dargo untuk mendapatkan ginjal sehat bagi David. Satu setengah milyar rupiah, harga yang harus dibayar Thomas untuk sebuah ginjal baru. Dargo memilih Mongki sebagai donor ginjal bagi David. Sebelum operasi dilakukan, sebuah rahasia masa lalu terbongkar. Sebuah pengorbanan dilakukan. Kesempurnaan cinta diwujudkan. 

Dengan mengambil fenomena perdagangan organ ilegal dengan korban anak jalanan sebagai latar belakang cerita, Henry mengajak kita semua untuk sejenak merenungkan makna dari kata pengorbanan. Apakah selama ini kita telah cukup memberikan apa yang kita miliki kepada orang-orang di sekitar dengan tulus, terlebih kepada kelompok marginal yang sering kali kita lupakan. Inilah potret suram kota besar yang biasa kita lihat dari balik kaca mobil. Ternyata kaca mobil kita jugalah yang menghalangi pandangan kita dalam melihat realita kehidupan yang sesungguhnya. Itulah makna dari kesempurnaan cinta ditengah hidup yang penuh ketidak sempurnaan.

Fenomena sosial berupa maraknya perdagangan anak dibawah umur belakangan memang semakin merajalela. Modus berupa penculikan anak kerap terjadi di kota besar. Selain diniatkan sebagai komoditi seksual, perdagangan anak juga disinyalir menjadi mata rantai dari penjualan organ tubuh ke seantero dunia. 

Tema yang luput dari perfilman Indonesia kontemporer ini dengan jeli dilihat oleh Henry Riady. Oleh Henry Riady, skenario yang yang ditulisnya bersama Doddy Soeriapoetra, Maria Kibtia, Nico Hermanu, David Budiatmaja dan Diana William dan diberi judul SEPULUH ini diolah menjadi sebuah drama menyentuh yang menggugah rasa kemanusiaan. Dengan cerdik, SEPULUH tak hanya menyorot seputar penculikan anak dari sisi kriminal, namun dibalut dengan kisah seorang perempuan tegar yang mengalami cobaan demi cobaan sepanjang hidupnya. Sosok perempuan ini sungguh tak beruntung karena dinikahi seorang pecandu narkoba. Oleh si suami, putri mereka yang belum lagi berusia setahun dijual kepada seorang cukong. Seperti belum cukup, si suami bahkan tega memfitnah istrinya tersebut dengan menjebaknya sebagai pemakai narkoba.

Dengan balutan kisah seperti itu, sungguh wajar jika SEPULUH akan membuat kaum perempuan akan iba melihat sepak terjang seorang ibu bernama Yanti (dimainkan dengan sangat apik oleh Rachel Maryam). Film SEPULUH juga memberi ruang pada penonton lelaki untuk bersimpati pada tokoh Thomas (diperankan oleh Arie Wibowo yang comeback setelah 15 tahun tak bermain di film layar lebar) yang adalah mantan kekasih Yanti dan harus berjuang menyelamatkan nyawa anaknya yang menderita gagal ginjal.

SEPULUH menjadi produksi perdana dari First Media Productions sekaligus debut dari sutradara muda Henry Riady (yang baru berusia 19 tahun). Anak keempat dari James Riady ini ternyata sangat tertarik dengan isu-isu kemanusiaan dan seperti sangat tertantang ketika mengolah cerita sekompleks SEPULUH. Saat ini, Henry tengah belajar sinematografi dan teologi di Biola University, Los Angeles. 

Keinginan melawan mainstream dalam merepresentasikan citra produk justru menghasilkan penuturan yang jujur terhadap sisi-sisi kehidupan yang terpinggirkan. Hal ini terekam dalam kumpulan foto karya Amrin Nugraha bertajuk "Seeing the Unseen".

Kepolosan potret kehidupan berhasil diekspresikan dalam kebebasan artistik yang lugas dalam menyelami arti kehidupan yang selama ini terlupakan. Jurnal foto ini merupakan jawaban atas pencarian panjang akan citra kehidupan ‘yang lain', yang selama ini terkubur dalam pesona kapitalisme yang menawarkan keindahan artifisial. Sebuah pembuktian rekaman visual yang memukau berhasil dihadirkan dalam jurnal foto yang membidik realitas kehidupan yang selama ini ‘ditolak' pasar. Bersama Gandhi Suryoto dan Emir Hakim, Armin berhasil merumuskan gagasannya dalam sebuah buku yang menunjukkan ‘roh' dari setiap foto sebagai perjalanan emosional eksistensial. Berbekal packaging yang lengkap dalam merepresentasikan keindahan foto melalui desain dan pilihan kata-kata bijak yang pas, buku ini mampu mengantarkan kita pada sebuah labirin penemuan gairah kehidupan baru yang memotret kehidupan dari sudut pandang lain. Jurnal foto ini telah membuka horison pemikiran baru dalam memaknai kehidupan secara jujur, ekspresif dan lantang; yang dewasa ini sulit sekali ditemukan akibat tergerus maraknya hiruk-pikuk budaya pasar.


Meski usianya baru 19 tahun, Henry Riady sudah berani membuat film tentang derita anak jalanan berjudul Sepuluh. Tak tanggung-tanggung, dana yang dikeluarkan mencapai Rp 12,7 miliar untuk menggarap film yang disutradarainya ini.

Film ini tayang di bioskop mulai 5 Februari 2009. "Dari film berdurasi dua jam lebih ini, saya berusaha mengungkapkan sebanyak mungkin isu kriminal, seperti perdagangan anak, eksploitasi anak jalanan, perdagangan organ ilegal, kasus mutilasi," ungkap Henry saat meluncurkan film Sepuluh di fX Plaza, Jalan MH Thamrin, Selasa (27/1).

Dana besar yang dikeluarkannya tak lantas membuat Henry berekspektasi besar soal jumlah penonton. "Seberapa pun banyaknya penonton, saya tetap terima kasih. Asalkan, penonton dapat menangkap message dari film ini. Visi saya di film ini berharap masyarakat lebih aware terhadap anak jalanan," ucap Henry.

Dana Rp 12,7 miliar (membengkak dari rencana semula Rp 5 miliar) menurut Henry adalah risiko idealismenya yang ingin membuat film yang terbaik. "Kita cari yang terbaik dari yang ada," kata Henry. Karena idealismenya, Henry merombak skrip sampai 70 kali. Henry Riady memang sutradara baru di perfilman Indonesia.

Nama belakangnya mengingatkan kita pada nama pengusaha besar James T Riady, bos Lippo Group Company. Namun, Henry memilih menggeluti profesi yang berbeda dengan ayahnya, menjadi sineas lewat perusahaan yang dipimpinnya, First Media Productions.

Di perusahaannya, Henry menjabat sebagai direktur dan eksekutif produser. Henry menyangkal, duit produksi film ini berasal dari grup Lippo. "Saya turun langsung cari dana, roadshow ke Jakarta, Surabaya, naik kereta," kata cowok kelahiran Singapura 14 Juli 1989 ini.

Nama besar ayahnya tak menjamin dana gampang dicari dan mudah cair. "Sangat sulit, karena saya orang baru di film. Mereka belum percaya. Meski dekat dengan papa, mereka belum tentu mau bantu," tutur Henry. (adangdaradjatun.com/dari berbagai sumber)


AddThis
Comments
Add New Search
Menarik ^_^
Jurnal Hidup 2010-07-31 12:52:11

Nice post...menarik sekali untuk dibaca ^_^

Ditunggu kunjungan balasannya ke blog saya:

http://www.jurnal-hidup.co.cc

Jika berminat tukaran link klik disini

Salam Kenal.
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Perspektif

Pendekatan Holistik RUU Keimigrasian

Kamis, 22 Juli 2010

Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies   Dewan...

Oprah, Akhir Sebuah Era?

Senin, 23 November 2009

News image

By Kevin ConollyKetika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis ...

Ubi Cilembu Potensi Pangan Lokal yang Populer di Pasar Internasional

Minggu, 22 November 2009

News image

Ubi jalar dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan ki...

Kiamat "2012" (Hanya) di Film

Senin, 16 November 2009

News image

Kiamat itu sudah dekat? Apa jadinya bila bumi yang selama ini kita pijak tiba-tiba amblas dan hilang tertelan air laut? Mulai dari rumor sampai data-data ilmiah sert...

Budaya Air di Sunda

Sabtu, 14 November 2009

Oleh Jakob Sumardjo ...

Tentang Gempa di Masa Islam

Rabu, 11 November 2009

News image

Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat ...

Serigala Terakhir, Konflik untuk Pendewasaan Masyarakat

Kamis, 5 November 2009

News image

Di sebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan ...

Film Epik Nabi Muhammad Akan Dibuat

Selasa, 3 November 2009

News image

DOHA - Sebuah film epik tentang Nabi Muhammad akan segera dibuat. Tak tanggung-tanggung, rencananya film yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang arti sebenarnya Islam itu akan diproduseri oleh ...

Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Sabtu, 31 Oktober 2009

Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar ...

Memberdayakan Pendidikan Seni Sunda

Rabu, 28 Oktober 2009

Oleh Djasepudin Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan ...

Emak Ingin Naik Haji

Rabu, 28 Oktober 2009

News image

Jika tak ada aral, November mendatang satu lagi karya film berbalut tema religi menyerbu bioskop. Film berjudul Emak Ingin Naik Haji ini nantinya akan menjadi film yang akan menambah semar...

Islam dalam Pandangan Barat

Selasa, 27 Oktober 2009

Nikolaos van Dam(Duta Besar Belanda untuk Indonesia)Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa ...

Optimisme Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Oleh Azyumardi AzraHari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai ...

Membangun Kembali Nasionalisme Kaum Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Muhammadun AS(Peneliti Cepdes Jakarta)Hai pemuda dan pemudi, engkau pembina hari kemudian. Orang mengatakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian. Jangan terima! Kita ini bukan sekadar pupuk. Kami lebih dari ...

Ruma Maida: Perjuangan Mendidik Anak Jalanan

Senin, 26 Oktober 2009

News image

Cerita bermuara pada perjuangan Maida.Ia ingin mempertahankan rumah tua tempatnya mendidik anak-anak jalanan di ibukota. Di film, Maida digambarkan sebagai gadis kikuk yang idealis. Bertah...