Maryamah Karpov: Sihir kata yang memberi semangat berjuang PDF Cetak E-mail
Resensi
Selasa, 12 Mei 2009 10:03


Maryamah Karpov merupakan buku terakhir dari Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata mulai dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Dalam novel ini, dengan satirenya yang khas, ironi yang menggelitik, dan intelegensia yang meluap-luap namun membumi, Andrea berkisah tentang perempuan dari satu sudut yang amat jarang diekspos penulis Indonesia dewasa ini. Di buku ini, Andrea mengisahkan tentang Arai, Lintang, A Ling, dan beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab di 3 buku terdahulu.

Maryamah Karpov dilaunching pada tanggal 28 November 2008 di toko buku MP Book Point, Jakarta, dan beredar secara resmi mulai tanggal 29 November 2008.Launching buku ini mendapatkan expose yang cukup besar dari media massa dan mendapat perhatian banyak dari khalayak pecinta buku terutama oleh penggemar Tetralogi Laskar Pelangi. Bahkan ada beberapa pihak yang menganggap antusiasme terhadap launching buku Andrea Hirata ini sebagai JK Rowling-nya Indonesia.

Tetap dengan sihir-sihir kata-katanya, Andrea membawa pembaca pada kisah-kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan. Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Dengan sepenuh hati, Ikal rela berlayar mengunjungi pulau "Batuan" atau lebih dikenal sebagai pulau tempat para lanun (bajak laut) berkumpul dan bersembunyi dari polisi. Ikal bersusah payah ke pulau itu hanya untuk bertemu A Ling. ia tidak peduli akan nyawanya. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar.

Andrea berusaha melucu dalam novelnya ini dengan satire yangg seringkali tanpa makna. Penulis tampaknya ingin menyampaikan pesan-pesannya melalui gambaran
yang metaforik semisal bekerja rody sebagai kuli timah, membuat sendiri kapal layar
11 meter, mengarungi selat malaka, bertemu kawanan lanun, dan cerita lainnya. Oleh editor dalam sampul belakang buku, kisah dalam buku ini ditulis sebagai "cultural
literacy non-fiction
", seolah-olah memang ini kisah nyata yang dialami dan bukan fiksi.

Dalam salah satu bagian Andrea mengungkapkannya seperti ini: "Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini; sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadap gunungan timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai magrib, menggantikan tugas ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan kepada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani."

Semangat berjuang Ikal digambarkan dengan jelas dalam paragraf tersebut. Di sinilah semangat Ikal mengenang masa lalunya dalam awal novel ini untuk mereview novel pertamanya. Disebutkan bahwa ketika Ikal di penghujung studi di Perancis, ada peribahasa "setinggi-tinggi bangau terbang, akhirnya hinggap di pelimbahan (kubangan) juga". Seolah-olah upaya belajar di luar negeri, sia-sia ketika harus kembali ke kampung halamannya. Tentu di sini juga ada pergolakan untuk mempertaruhkan kepandaiaannya untuk pembangunan daerahnya.

Yang paling mengesankan adalah pertemuan kembali dengan teman-teman lamanya yang tergabung dalam Laskar Pelangi. Mereka kini telah tumbuh dewasa dan masing-masing telah menemukan hidupnya. Sebuah ironi kembali dirasakan Ikal. Para sahabat Laskar Pelangi ini tak pernah pergi ke mana-mana, namun mereka telah menemukan hidup bahkan cinta sekaligus, sementara Ikal yang telah mencapai sudut-sudut dunia merasa tak menemukan apa-apa, tak juga cintanya.

Titik terang keberadaan A Ling mulai terlihat setelah seorang nelayan menemukan sejumlah mayat mengambang di laut. Tanda fisik berupa tato kupu-kupu hitam di tubuh mayat mengingatkan Ikal pada sosok kekasihnya itu yang ternyata memiliki tanda serupa.
Berdasarkan analisa dan insting maka sampailah Ikal pada sebuah dugaan, A Ling berada di Pulau Batuan, sebuah gugusan pulau-pulau kecil yang sangat strategis bagi para pendatang haram untuk menyeberang ke Singapura. Di sekitar pulau inilah berkuasa para lanun (bajak laut) yang terkenal bengis dan tak segan mencabut nyawa orang.

Bukan Ikal namanya kalau gampang menyerah. Demi A Ling, dia bertekad untuk datang ke pulau batuan. Kesulitan demi kesulitan menghadangnya, bahkan tak sedikit orang-orang di sekitar mencapnya sinting. Ikal menghadapi sebuah pertaruhan besar dan bertekad untuk memenangkannya. Sekali lagi pertolongan dari sahabat sejati terutama Lintang dan Mahar yang membuatnya lolos dari kesulitan-kesulitan itu. 

Novel ini rupanya ingin menggaris bawahi sebuah pesan, janganlah engkau takut bermimpi. Tiada sesuatu hal yang mustahil dilakukan asal dilakukan dengan tekad baja dan semangat pantang menyerah, karena bukankah Tuhan selalu beserta para pemberani? Kata demi kata mengalir bak sihir seperti melarang kita menutup buku, menyudahi membaca sebelum mencapai kata akhir. Inilah kepiawaian Andrea dalam memilih kata-kata yang telah teruji di 3 buku sebelumnya. 

Walau buku ini membuat orang yang membaca tidak bisa menghentikan bacaannya, buku Maryamah Karpov mempunyai kelemahan. Ada beberapa hal yang mengganjal setelah selesai membaca, antara lain tidak ditemukannya hubungan langsung antara judul dan bangunan cerita secara keseluruhan. Maryamah Karpov di sini digambarkan sebagai seorang perempuan yang biasa dipanggil mak cik, mendapat tambahan nama belakang karena sering terlihat di perkumpulan jago-jago catur di warung kopi "Usah Kau Kenang Lagi" dan mengajari orang langkah-langkah a la Karpov. 

Nama ini terkesan tempelan saja, artinya tanpa tokoh ini pun tak akan mengubah jalan cerita. Terhitung tidak lebih hanya 3 kali nama perempuan ini disebut dalam buku ini.

Ada juga hal yang ganjil pada saat Ikal menemukan bangkai perahu lanun di dasar sungai Linggang. Keputusan untuk meng'kanibal'kan material kayu kapal lanun demi menyempurnakan haluan perahu "Mimpi-Mimpi Lintang"-Ikal memberi nama perahunya seperti itu untuk menghormati sahabatnya-rasanya sesuatu yang tak masuk di akal. Mana mungkin seorang Ikal yang notabene seorang berpendidikan tinggi mengabaikan nilai historis sebuah perahu yang telah karam ratusan tahun lalu hanya demi ambisi membangun perahu baru.

Terlepas dari adanya beberapa kekurangan di atas, buku ini tentu mempunyai banyak keistimewaan dan memang layak menjadi bacaan wajib terutama bagi teman-teman yang sudah membaca 3 buku sebelumnya. Tentu saja, cerita kisah cinta Ikal dan Aling yang dipertanyakan dalam novel sebelumnya, membuat orang mendapat jawabannya dalam novel ini. Laris manis, tentu saja, seperti kacang goreng. Ungkapan yang pas untuk hasil penjualan buku ini, seperti halnya buku Ayat-ayat Cinta. Untuk lebih lengkap menikmati sendiri kisahnya, silahkan membaca buku dengan tebal 504 halaman ini. Dan selami bahasa yang menyihir pembaca dan menumbuhkan imajinasi yang mempunyai semangat untuk belajar dan berjuang untuk membangun generasi muda Indonesia. (adangdaradjatun.com)


AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Perspektif

Pendekatan Holistik RUU Keimigrasian

Kamis, 22 Juli 2010

Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies   Dewan...

Oprah, Akhir Sebuah Era?

Senin, 23 November 2009

News image

By Kevin ConollyKetika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis ...

Ubi Cilembu Potensi Pangan Lokal yang Populer di Pasar Internasional

Minggu, 22 November 2009

News image

Ubi jalar dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan ki...

Kiamat "2012" (Hanya) di Film

Senin, 16 November 2009

News image

Kiamat itu sudah dekat? Apa jadinya bila bumi yang selama ini kita pijak tiba-tiba amblas dan hilang tertelan air laut? Mulai dari rumor sampai data-data ilmiah sert...

Budaya Air di Sunda

Sabtu, 14 November 2009

Oleh Jakob Sumardjo ...

Tentang Gempa di Masa Islam

Rabu, 11 November 2009

News image

Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat ...

Serigala Terakhir, Konflik untuk Pendewasaan Masyarakat

Kamis, 5 November 2009

News image

Di sebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan ...

Film Epik Nabi Muhammad Akan Dibuat

Selasa, 3 November 2009

News image

DOHA - Sebuah film epik tentang Nabi Muhammad akan segera dibuat. Tak tanggung-tanggung, rencananya film yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang arti sebenarnya Islam itu akan diproduseri oleh ...

Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Sabtu, 31 Oktober 2009

Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar ...

Memberdayakan Pendidikan Seni Sunda

Rabu, 28 Oktober 2009

Oleh Djasepudin Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan ...

Emak Ingin Naik Haji

Rabu, 28 Oktober 2009

News image

Jika tak ada aral, November mendatang satu lagi karya film berbalut tema religi menyerbu bioskop. Film berjudul Emak Ingin Naik Haji ini nantinya akan menjadi film yang akan menambah semar...

Islam dalam Pandangan Barat

Selasa, 27 Oktober 2009

Nikolaos van Dam(Duta Besar Belanda untuk Indonesia)Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa ...

Optimisme Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Oleh Azyumardi AzraHari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai ...

Membangun Kembali Nasionalisme Kaum Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Muhammadun AS(Peneliti Cepdes Jakarta)Hai pemuda dan pemudi, engkau pembina hari kemudian. Orang mengatakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian. Jangan terima! Kita ini bukan sekadar pupuk. Kami lebih dari ...

Ruma Maida: Perjuangan Mendidik Anak Jalanan

Senin, 26 Oktober 2009

News image

Cerita bermuara pada perjuangan Maida.Ia ingin mempertahankan rumah tua tempatnya mendidik anak-anak jalanan di ibukota. Di film, Maida digambarkan sebagai gadis kikuk yang idealis. Bertah...