Menjadi Bangsa yang Mandiri dan Beridentitas PDF Cetak E-mail
Pandangan
Rabu, 11 Februari 2009 19:17

Oleh Adang Daradjatun

Perayaan tahun baru 2009 telah lewat satu bulan. Pada saat yang hampir bersamaan, kita juga merayakan peringatan Tahun Hijriyah 1430. Meski terlalu dini untuk melakukan evaluasi, namun ada beberapa hal pokok yang sepertinya belum menjadi landasan pemikiran untuk mengadakan evolusi tindakan di tahun baru ini.

Semestinya, momentum tahun baru adalah upaya yang baik membuat kerangka berpikir yang jernih tentang bagaimana membangun sebuah bangsa yang baik, maju dan menyejahterakan. Hijrah (berpindah) adalah salah satu pilihan dalam masa sekarang ini untuk membuat perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan tentang cara berpikir, membuat solusi dan melangkah ke depan demi perbaikan bangsa.

Berbagai peristiwa yang telah dijalani dalam satu bulan terakhir belum cukup maksimal untuk dapat menjelaskan indikator bahwa kita sedang melakukan perubahan. Yang terjadi justru, para elit politik asik dengan program dan cara untuk dapat meraih simpati dari masyarakat demi kepentingan sesaat.  Saling serang lewat media menjadi pilihan pertama untuk menjegal lawan. Dalil kemiskinan justru menjadi senjata untuk melumpuhkan saingan.

Adalah benar bahwa tahun 2009 adalah gerbang menuju perbaikan. Di tahun ini masyarakat akan memilih para wakilnya duduk di Dewan Perwakilan Rakyat/Daerah, dan juga pemimpin nasional sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Melalui tahun ini diharapkan pilihan rakyat benar-benar menjadi kaca cermin bagi pemilihnya. Artinya, mereka yang terpilih tidak saja mampu menangkap aspirasi, tetapi juga mampu membuat dan bertindak demi kepentingan rakyatnya.

 

Menuju 2015

Tahun ini adalah tahun keputusan dimana segala aspek yang berkaitan dengan kesejahteraan bangsa ini akan dipersiapkan dan diprogramkan untuk bersaing di tahun 2015. Pada tahun tersebut, sebagaimana yang dicanangkan oleh beberapa negara ASEAN disepakati sebagai pintu dibukanya pasar bebas tingkat ASEAN (ASEAN Free Tade Area/AFTA). Artinya, pemimpin dan wakil yang terpilih di tahun ini menjadi kunci siap tidaknya negara ini memasuki pasar bebas di tingkat lokal (ASEAN).

Meski tinggal enam tahun lagi, AFTA sesungguhnya sangat strategis untuk lebih meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup rakyat Indonesia. Ini akan tercapai bila rancangan yang dibuat mampu memberikan output yang menjanjikan bagi rakyat. Jika salah dalam menentukan program prioritas, maka negara yang mempunyai potensi sumber daya alam dan manusia luar biasa ini hanya bisa menjadi penonton setia dan tak mampu menjadi pelaku utama.

Kunci siap menghadapi era perdagangan bebas tidak ditandai dengan pengurungan sikap demi mempertahankan diri, tetapi justru membuka luas persaingan. Sikap tertutup hanyalah satu alasan tentang ketidaksiapan. Dan ketidaksiapan, adalah pilihan buruk untuk tetap jalan di tempat atau bahkan mundur ke belakang.

Alasan sikap ketertutupan demi mempertahankan identitas kebangsaannya tidaklah terlalu tepat. Sebuah bangsa yang besar, adalah bangsa dimana masyarakatnya mampu mengaktualisasikan diri di tingkat lebih luas dengan tetap mempertahankan identitas yang melekat di badannya. Artinya, keterbukaan tidak harus dibarengi dengan ketelanjangan bertingkah laku (sebebas-bebasnya), tetapi justru harus dikuatkan dengan penunjukan identitas diri yang sebenarnya.

Bangsa Indonesia yang mempunyai ragam suku dan budaya dapat menjadi ajang jual yang kompetitif di era AFTA ke depan. Kasus Reog, Batik dan Angklung yang diaku negara lain bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita. Bahwa kita mampu memperkenalkan dan menginternasionalisasikan budaya ini, yang demikian menjadi tugas bersama. Tidak saja bagi eksekutif, legislatif dan yudikatifnya, tugas ini juga menjadi tugas bersama rakyat Indonesia yang terus bangga dengan tradisinya dan mampu mempertahankan serta mengembangkannya.

AFTA memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi bangsa yang mandiri. Dengan AFTA kita dituntut untuk dapat segera menyelesaikan persoalan dalam negeri secara cepat dan tepat. Kerangkanya adalah penegakan hukum secara tegas dengan melindungi para pemegang haknya secara adil dan melaksanakan program yang berkelanjutan demi perbaikan dan kesejahteraan rakyatnya. Bila AFTA telah mampu kita lalui dengan baik, niscaya perdagangan bebas dunia akan lebih mudah dijalani.

Era itu dirancang dari mulai sekarang, saat pemilu dilaksanakan dan para pemilih telah menentukan sikapnya. Lima menit di bilik suara sangat menentukan nasib lima tahun mendatang pada pemilu 2009 nanti. Siapkah kita memilih calon yang sesuai? [ ]


AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Perspektif

Pendekatan Holistik RUU Keimigrasian

Kamis, 22 Juli 2010

Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies   Dewan...

Oprah, Akhir Sebuah Era?

Senin, 23 November 2009

News image

By Kevin ConollyKetika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis ...

Ubi Cilembu Potensi Pangan Lokal yang Populer di Pasar Internasional

Minggu, 22 November 2009

News image

Ubi jalar dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan ki...

Kiamat "2012" (Hanya) di Film

Senin, 16 November 2009

News image

Kiamat itu sudah dekat? Apa jadinya bila bumi yang selama ini kita pijak tiba-tiba amblas dan hilang tertelan air laut? Mulai dari rumor sampai data-data ilmiah sert...

Budaya Air di Sunda

Sabtu, 14 November 2009

Oleh Jakob Sumardjo ...

Tentang Gempa di Masa Islam

Rabu, 11 November 2009

News image

Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat ...

Serigala Terakhir, Konflik untuk Pendewasaan Masyarakat

Kamis, 5 November 2009

News image

Di sebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan ...

Film Epik Nabi Muhammad Akan Dibuat

Selasa, 3 November 2009

News image

DOHA - Sebuah film epik tentang Nabi Muhammad akan segera dibuat. Tak tanggung-tanggung, rencananya film yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang arti sebenarnya Islam itu akan diproduseri oleh ...

Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Sabtu, 31 Oktober 2009

Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar ...

Memberdayakan Pendidikan Seni Sunda

Rabu, 28 Oktober 2009

Oleh Djasepudin Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan ...

Emak Ingin Naik Haji

Rabu, 28 Oktober 2009

News image

Jika tak ada aral, November mendatang satu lagi karya film berbalut tema religi menyerbu bioskop. Film berjudul Emak Ingin Naik Haji ini nantinya akan menjadi film yang akan menambah semar...

Islam dalam Pandangan Barat

Selasa, 27 Oktober 2009

Nikolaos van Dam(Duta Besar Belanda untuk Indonesia)Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa ...

Optimisme Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Oleh Azyumardi AzraHari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai ...

Membangun Kembali Nasionalisme Kaum Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Muhammadun AS(Peneliti Cepdes Jakarta)Hai pemuda dan pemudi, engkau pembina hari kemudian. Orang mengatakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian. Jangan terima! Kita ini bukan sekadar pupuk. Kami lebih dari ...

Ruma Maida: Perjuangan Mendidik Anak Jalanan

Senin, 26 Oktober 2009

News image

Cerita bermuara pada perjuangan Maida.Ia ingin mempertahankan rumah tua tempatnya mendidik anak-anak jalanan di ibukota. Di film, Maida digambarkan sebagai gadis kikuk yang idealis. Bertah...