Ekonomi Indonesia Mau ke Mana? PDF Cetak E-mail
Artikel
Jumat, 19 Juni 2009 08:34

Ageng Wibowo

Jakarta  - Cap ekonom neoliberal terlanjur melekat pada sosok Prof. Dr Boediono, terlebih setelah Gubernur Bank Indonesia itu didaulat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi calon wakil presiden.

Atas tuduhan itu, Boediono tampaknya tak mempunyai banyak ruang untuk berkelit, karena memang bukan perkara gampang menjelaskan sebuah aliran atau ideologi ekonomi tertentu, apalagi jika ideologi itu terlanjur memiliki tendensi negatif.

Hampir tak ada ruang dan media yang cukup. Menjelaskan sepotong-sepotong di stasiun televisi, radio, ataupun kolom media cetak terkadang justru menimbulkan blunder menyesatkan.

Boediono tampaknya sadar betul akan kondisi itu, karenanya ia memilih untuk membuat buku. Dengan buku, Boediono ingin menyuguhkan secara utuh pemikirannya tentang ekonomi Indonesia yang dicita-citakannya.

"Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?" adalah buku kumpulan 10 esai Boediono sejak 1981 hingga 2007. Buku ini merupakan rekaman pandangannya sebagai seorang pakar ekonomi dan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. 

Buku ini juga merajut landasan berpikir Boediono saat menjabat sebagai Kepala Bappenas, Menteri Keuangan, dan Menko Perekonomian. Ia bersiteguh bahwa kebijakan yang diambil selama dalam pemerintahan semata-mata demi kesejahteraan rakyat.

Boediono menepis peluncuran buku tersebut didedikasikan untuk meraih kursi wakil presiden pada Pilpres 8 Juli mendatang. Ia mengatakan buku ini merupakan hasil pemikiran orisinil seorang Boediono. 

"Tulisan ini merupakan tulisan saya. Buku ini bukan untuk kampanye. Buku ini sebagai bagian pencerahan dan mengajak masyarakat untuk berpikir rasional dan jernih," katanya dalam sambutan diskusi bukunya di Perpustakaan Nasional, Jakarta. 

Tujuan Kebijakan Ekonomi 

Dalam "Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?", Boediono menyatakan tujuan akhir kebijakan ekonomi sebuah negara adalah meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Hal itu hanya bisa tercipta jika harga kebutuhan pokok stabil dan penghasilan rakyat dapat diandalkan. 

Pertumbuhan ekonomi merupakan satu-satunya jalan untuk meningkatkan penghasilan masyarakat, sementara itu stabilitas ekonomi merupakan cara untuk melindungi agar penghasilan masyarakat tidak tergerogoti oleh naiknya harga bahan pokok. 

Keduanya bertujuan untuk menjaga keberpihakan negara pada masyarakat dengan menahan stabilitas harga pokok dan mengarahkan perluasan kegiatan ekonomi. 

Selain itu, menurut Boediono, negara juga harus mengusahakan peningkatan kesejahteraan yang adil dan merata, karena pemerintahan yang adil dan memihak pada kepentingan rakyat banyak merupakan prioritas utama stabilitas ekonomi.

"Bukan hal mudah mewujudkan tuntutan dasar tersebut, apalagi jika energi sosial yang ada lebih condong digunakan untuk kesibukan lain yang tidak mendasar," katanya.

Boediono berkeyakinan pemerintahan yang baik adalah yang mampu memfokuskan pada pemenuhan kesejahteraan yang adil dan merata. Dalam bahasa ekonomi, katanya, pemenuhan kesejahteraan yang adil dan merata hanya dapat dicapai dengan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan disertai dengan stabilitas ekonomi yang mantap.

Dalam buku setebal 149 halaman itu Boediono menjelaskan prioritas utama di bidang perekonomian adalah untuk dapat menampung mayoritas angkatan kerja yang kenyataannya masih terdiri dari tenaga kerja kurang terampil.

Menurut Boediono, langkah yang harus diambil untuk memelihara stabilitas ekonomi yang sekarang sudah mantap yaitu, meneruskan kebijakan fiskal moneter yang hati-hati dan menuntaskan penyehatan sektor keuangan. 

Sedangkan sasaran pertumbuhan berkelanjutan yang perlu penanganan lebih baik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah pembangunan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi.

Ia menyayangkan strategi industri perdagangan yang lebih mengacu pada kepentingan perusahaan tertentu. Pemisahan Departemen Perdagangan dan Perindustrian justru memperpanjang alur koordinasi kebijakan kedua bidang itu. 

Pembangunan infrastruktur, perbaikan iklim investasi dan strategi industri perdagangan yang jelas dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun mendatang. 

Boediono menambahkan pertumbuhan suatu negara akan sangat dipengaruhi oleh kualitas institusi, sumber daya manusia, sumber daya alam dan kemampuan teknologinya.

Lemahnya kinerja birokrasi merupakan kendala yang menghambat pertumbuhan bagi semua institusi, untuk itu diperlukan penyesuaian antara faktor agar sinambung dan saling mendukung.

Langkah ekstra yang perlu diambil pemerintah dalam mewujudkan hal itu adalah dengan kebijakan pengembangan usaha kecil dan menengah yang komprehensif, pelatihan kerja yang benar-benar meningkatkan peluang tenaga kerja untuk mengisi lowongan kerja yang tersedia. 

Kemudian pembenahan mendasar terhadap pengelolaan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dikirim ke luar negeri dan gerakan pengentasan kemiskinan dengan strategi yang jelas. "Pelaksanaan dan penyusunannya harus melibatkan pemangku kepentingan termasuk departemen, pemerintah daerah, dunia usaha kelompok masyarakat dan tentunya kaum miskin itu sendiri."

Untuk itu ia menganjurkan dibentuknya sebuah focus group yang dikoordinasikan pada tingkat tinggi agar tidak saling bertabrakan dan membuang energi yang tidak diperlukan. 

Pemulihan Ekonomi Indonesia 

Menurut Boediono, Indonesia sulit keluar dari krisis multidimensional yang sedang dihadapi karena timbulnya beberapa permasalahan mendasar secara bersamaan. Seolah-olah satu masalah timbul untuk memberatkan masalah lain. 

Di buku itu dituliskan tiga sebab mendasar di bidang ekonomi yaitu, para pelaku ekonomi belum yakin dengan situasi keamanan dan ketertiban umum, mereka juga tidak melihat adanya aturan main yang jelas di berbagai bidang, dan mereka tidak yakin dengan kebijakan ekonomi yang dapat berubah karena adanya perubahan angin politik.

Dari tiga penyebab mendasar itu, tiga masalah pokok yang menjadi sumber tidak adanya komitmen yang mendalam yaitu hukum dan keteraturan ("law and order"), aturan main ("rule of the game") dan konsistensi kebijakan ("policy consistency").

Hukum dan keteraturan (law and oder) merupakan penentu para investor dalam negeri dan luar negeri untuk menanamkan modalnya, mereka juga melihat situasi dan kondisi keamanan baik secara politik dan sosial agar investasinya dapat berjalan lancar.

Rule of the game atau aturan main yang jelas juga diperlukan agar adanya kepastian dari masing-masing pihak untuk saling menepati kontrak yang akan disepakati 

Boediono juga menekankan pentingnya konsistensi kebijakan untuk menumbuhkan minat para investor menanamkan modalnya di dalam negeri. Policy consistency juga tergantung oleh sikap baik dari para pemimpin, politik, masyarakat dan individu, ia mengharapkan kebijakan ini dapat berjalan secara berkesinambungan.

Dalam menerapkan semua usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, Boediono menegaskan perlunya sikap keteladanan dari pemerintah sebagai pemimpin agar bisa menjadi panutan masyarakat dan sebagai bagian dari perwujudan good governance (tata kelola pemerintahan yang baik).

Tanpa keteladanan tidak akan mungkin tercipta konsistensi kebijakan dari pemerintah untuk menarik para investor.

Untuk mendapatkan tujuan ekonomi, pemerintah tidak boleh menghalalkan segala cara karena akan sama saja dengan mencabik-cabik peraturan yang ada dan memperparah institusi. 

Pendapatan Perkapita

Indonesia juga diharapkan agar dapat meningkatkan pendapatan per kapitanya yang pada tahun 2006 diperkirakan sebesar 4.000 dolar AS yang masih jauh dari batas aman di 6.600 dolar AS.

Jika Indonesia mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi minimal tujuh persen setahun dan dengan laju pertumbuhan penduduk 1,2 persen per tahun maka menghasilkan per kapita akan tumbuh sebesar 5,8 persen tiap tahunnya. Dengan pertumbuhan seperti ini Indonesia akan berada di batas aman dalam waktu sembilan tahun. 

Namun jika pertumbuhan ekonomi tidak lebih dari tujuh persen, Indonesia memerlukan waktu lebih lama lagi untuk berada di batas aman. Sembilan tahun merupakan waktu yang lama untuk mengawal demokrasi Indonesia yang baru `mekar`. 

Dalam hal ini diperlukan peranan penting semua kalangan mulai dari pelaksanaan pemilihan umum yang bebas dan terbuka, multipartai, pembagian kekuasaan antara eksekutif legislatif dan yudikatif, peran pers dan organisasi kemasyarakatan. 

"Dengan buku ini, Boediono mengajak masyarakat untuk berpikir jernih dan rasional menyikapi kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah untuk bisa keluar dari krisis multidimensional," kata dosen ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Toni Prasetianto yang menjadi pembicara dalam kesempatan itu. (*)
(ANTARA News) 

AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Perspektif

Pendekatan Holistik RUU Keimigrasian

Kamis, 22 Juli 2010

Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies   Dewan...

Oprah, Akhir Sebuah Era?

Senin, 23 November 2009

News image

By Kevin ConollyKetika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis ...

Ubi Cilembu Potensi Pangan Lokal yang Populer di Pasar Internasional

Minggu, 22 November 2009

News image

Ubi jalar dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan ki...

Kiamat "2012" (Hanya) di Film

Senin, 16 November 2009

News image

Kiamat itu sudah dekat? Apa jadinya bila bumi yang selama ini kita pijak tiba-tiba amblas dan hilang tertelan air laut? Mulai dari rumor sampai data-data ilmiah sert...

Budaya Air di Sunda

Sabtu, 14 November 2009

Oleh Jakob Sumardjo ...

Tentang Gempa di Masa Islam

Rabu, 11 November 2009

News image

Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat ...

Serigala Terakhir, Konflik untuk Pendewasaan Masyarakat

Kamis, 5 November 2009

News image

Di sebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan ...

Film Epik Nabi Muhammad Akan Dibuat

Selasa, 3 November 2009

News image

DOHA - Sebuah film epik tentang Nabi Muhammad akan segera dibuat. Tak tanggung-tanggung, rencananya film yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang arti sebenarnya Islam itu akan diproduseri oleh ...

Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Sabtu, 31 Oktober 2009

Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar ...

Memberdayakan Pendidikan Seni Sunda

Rabu, 28 Oktober 2009

Oleh Djasepudin Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan ...

Emak Ingin Naik Haji

Rabu, 28 Oktober 2009

News image

Jika tak ada aral, November mendatang satu lagi karya film berbalut tema religi menyerbu bioskop. Film berjudul Emak Ingin Naik Haji ini nantinya akan menjadi film yang akan menambah semar...

Islam dalam Pandangan Barat

Selasa, 27 Oktober 2009

Nikolaos van Dam(Duta Besar Belanda untuk Indonesia)Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa ...

Optimisme Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Oleh Azyumardi AzraHari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai ...

Membangun Kembali Nasionalisme Kaum Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Muhammadun AS(Peneliti Cepdes Jakarta)Hai pemuda dan pemudi, engkau pembina hari kemudian. Orang mengatakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian. Jangan terima! Kita ini bukan sekadar pupuk. Kami lebih dari ...

Ruma Maida: Perjuangan Mendidik Anak Jalanan

Senin, 26 Oktober 2009

News image

Cerita bermuara pada perjuangan Maida.Ia ingin mempertahankan rumah tua tempatnya mendidik anak-anak jalanan di ibukota. Di film, Maida digambarkan sebagai gadis kikuk yang idealis. Bertah...

Jumlah Kunjungan Konten : 853703
Kami memiliki 190 Tamu online