Pertemuan Antar Peradaban PDF Cetak E-mail
Artikel
Sabtu, 17 Oktober 2009 11:29
 
Oleh Soesilo Bambang Yudhoyono
 
Cambridge, Massachusetts – Beberapa bulan yang lalu, Presiden Barack Obama menyampaikan sebuah pidato bersejarah di Kairo, yang mencoba meredefinisi hubungan antara Amerika dan dunia Muslim. Saya ingin menanggapi pidato itu.

Enam belas tahun yang lalu, Samuel Huntington menulis sebuah esai yang mengetengahkan bahwa setelah Perang Dingin, peradaban, agama dan budaya akan menjadi elemen yang menentukan hubungan internasional dan menjadi penyebab utama konflik antar-dan-intra-bangsa.

Bagi saya, istilah “benturan peradaban” itu sendiri kontraproduktif. Saya tidak percaya bahwa peradaban-peradaban secara inheren tak dapat didamaikan dan mudah berkonflik ketika mereka berinteraksi. Tapi peringatan Huntington tentang potensi perpecahan dan pergolakan paska Perang Dingin bukanlah peringatan sepele. Isu peradaban sangat mengemuka dalam perpolitikan modern. Bahkan peringatan Huntington juga ada hubungannya dengan Indonesia.

Pada tahun-tahun penuh gejolak menyusul kemerdekaan, Indonesia menghadapi ancaman separatis, konflik etnis dan agama, dan pemberontakan kelompok Islam. Tapi kami berhasil mengatasi tantangan-tantangan ini. Kami beradaptasi. Dan alih-alih kandas, kami tumbuh berkembang.

Saya yakin kita bisa secara mendasar mengubah dan mengembangkan cara peradaban, agama dan budaya berinteraksi. Ini bukanlah utopia; ini sebuah visi pragmatis. Saya telah melihat visi ini berjalan. Pertanyaannya adalah: bisakah kita membuatnya berjalan di tingkat global?

Perkenankan saya membeberkan sembilan hal yang wajib diwujudkan untuk menggapai harmoni antar peradaban:

Kewajiban pertama adalah membuat abad ke-21 sebagai abad “kekuatan lunak” (soft power). Pada abad ke-20 kita melihat “kekuatan keras” dalam bentuk peperangan, termasuk Perang Dingin yang mengancam kita dengan pembantaian menggunakan senjata nuklir. Sebuah prakiraan menyebutkan bahwa sekitar 180 juta orang mati dalam perang sepanjang abad yang lalu.

Tapi ada banyak “defisit kekuatan lunak” yang harus diisi oleh peradaban-peradaban dunia. Pada abad ke-13, peradaban Islam menjadi yang tercanggih di dunia karena haus pengetahuan. Dan pengetahuan ilmiah dari dunia Muslim ini belakangan dimanfaatkan oleh Renaisans Barat. Peradaban-peradaban telah saling melanjutkan pengetahuan yang dimiliki oleh yang lain, dan telah diperkaya dengannya.

Kewajiban kedua adalah mengintensifkan dialog dan interaksi global. Kita telah melihat banyak prakarsa bagus. Pada 2001, Perserikatan Bangsa-Bangsa memulai Dialog antar Peradaban. Spanyol dan Turki belakangan meluncurkan Aliansi Peradaban. Baru-baru ini Arab Saudi menyelenggarakan Konferensi Antaragama di PBB. Kita harus meningkatkan kualitas dialog-dialog ini sehingga bisa menghasilkan aksi-aksi spesifik dan melampaui diskusi-diskusi di antara sesama kaum moderat.

Kewajiban ketiga adalah kebutuhan menemukan solusi konflik politik yang membelah dunia Barat dan dunia Muslim. Kini, sekitar dua per tiga negara Muslim berada dalam konflik atau menghadapi ancaman konflik. Sebaliknya, hanya seperempat negara-negara non-Muslim yang menghadapi tantangan yang sama. Tapi meski ada situasi konflik yang sangat kompleks ini, kaum Muslim harus bisa membedakan antara sebuah konflik yang melibatkan Muslim, dan “perang melawan Islam”.

Kewajiban keempat adalah menguatkan suara-suara moderasi di tengah masyarakat kita. Kita harus memberdayakan kelompok moderat. Mereka harus bersuara dan membela nilai-nilai arus utama mereka untuk menghadapi oposisi dari kaum ekstremis.

Kewajiban kelima adalah multikulturalisme dan toleransi. Kita semua harus bekerja bersama untuk memastikan bahwa multikulturalisme dan toleransi menjadi norma global. Toleransi berarti penghormatan penuh pada yang lain, tulus menerima perbedaan dan melangkah maju di atas keragaman. Hanya toleransi semacam inilah yang bisa menyembuhkan kebencian dan kemarahan yang tertanam dalam.

Kewajiban keenam adalah membuat globalisasi berjalan untuk semua. Tak akan ada harmoni antar peradaban yang sejati selama mayoritas dari 1,3 miliar Muslim di dunia masih merasa terpinggirkan dan tak aman.

Kewajiban ketujuh adalah mereformasi tata pemerintahan dunia. Meski G-20 lebih representatif untuk dinamika global saat ini, Dewan Keamanan PBB masih mencerminkan perimbangan kekuatan pada 1945, ketimbang kekuatan pada 2009. Dewan ini perlu direstrukturisasi untuk mengikuti realitas geopolitik saat ini.

Kewajiban kedelapan adalah pendidikan. Para politisi sering memandang sebelah pendidikan baik di rumah maupun di ruang kelas. Tapi jawaban untuk masalah kita ada di sana; disanalah pertempuran memenangkan hati dan pikiran generasi mendatang berlangsung. Di tempat-tempat inilah kita harus mengubah kebodohan menjadi belas kasih, dan intoleransi menjadi penghormatan.

Akhirnya, kewajiban yang kesembilan adalah menjaga nurani dunia. Inilah yang saya lihat di Aceh setelah tragedi 2004 berupa tsunami besar menewaskan 200.000 orang dalam setengah jam. Seluruh bangsa berduka.

Tapi dalam tragedi ini, kita juga menemukan kemanusiaan. Seluruh dunia menangis bersama kami dan menawarkan bantuan. Relawan internasional dari seluruh dunia bekerja bahu membahu membantu orang Aceh. Saya sadar bahwa ada sebuah nurani dunia yang perlu kita jaga.

Presiden Obama bicara di Kairo tentang sebuah “awal baru” antara Amerika dan dunia Muslim. Hari ini, saya katakan bahwa kita bisa menciptakan sebuah dunia baru, yang bukan merupakan dunia takluk-menaklukkan, melainkan dunia keterhubungan. Itu sebuah dunia yang dicirikan bukan oleh benturan antar peradaban, tapi oleh pertemuan antar peradaban. Sebuah dunia yang ditandai oleh kecukupan, bukan oleh kemiskinan. Dan sebuah “kerajaan luas” pikiran-pikiran global yang meruntuhkan konflik dan permusuhan selama berabad-abad.

###

* Susilo Bambang Yudhoyono ialah Presiden Indonesia. Artikel yang disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) ini diambil dari pidatonya, “Toward Harmony Among Civilizations” (Menuju Harmoni antar Peradaban), yang disampaikan di Kennedy School of Government, Harvard University, 29 September lalu. Versi yang lebih panjang pidato ini bisa dilihat di www.thejakartaglobe.com.

Sumber: Jakarta Globe, 5 Oktober 2009, www.thejakartaglobe.com

AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Perspektif

Pendekatan Holistik RUU Keimigrasian

Kamis, 22 Juli 2010

Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies   Dewan...

Oprah, Akhir Sebuah Era?

Senin, 23 November 2009

News image

By Kevin ConollyKetika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis ...

Ubi Cilembu Potensi Pangan Lokal yang Populer di Pasar Internasional

Minggu, 22 November 2009

News image

Ubi jalar dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan ki...

Kiamat "2012" (Hanya) di Film

Senin, 16 November 2009

News image

Kiamat itu sudah dekat? Apa jadinya bila bumi yang selama ini kita pijak tiba-tiba amblas dan hilang tertelan air laut? Mulai dari rumor sampai data-data ilmiah sert...

Budaya Air di Sunda

Sabtu, 14 November 2009

Oleh Jakob Sumardjo ...

Tentang Gempa di Masa Islam

Rabu, 11 November 2009

News image

Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat ...

Serigala Terakhir, Konflik untuk Pendewasaan Masyarakat

Kamis, 5 November 2009

News image

Di sebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan ...

Film Epik Nabi Muhammad Akan Dibuat

Selasa, 3 November 2009

News image

DOHA - Sebuah film epik tentang Nabi Muhammad akan segera dibuat. Tak tanggung-tanggung, rencananya film yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang arti sebenarnya Islam itu akan diproduseri oleh ...

Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Sabtu, 31 Oktober 2009

Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar ...

Memberdayakan Pendidikan Seni Sunda

Rabu, 28 Oktober 2009

Oleh Djasepudin Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan ...

Emak Ingin Naik Haji

Rabu, 28 Oktober 2009

News image

Jika tak ada aral, November mendatang satu lagi karya film berbalut tema religi menyerbu bioskop. Film berjudul Emak Ingin Naik Haji ini nantinya akan menjadi film yang akan menambah semar...

Islam dalam Pandangan Barat

Selasa, 27 Oktober 2009

Nikolaos van Dam(Duta Besar Belanda untuk Indonesia)Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa ...

Optimisme Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Oleh Azyumardi AzraHari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai ...

Membangun Kembali Nasionalisme Kaum Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Muhammadun AS(Peneliti Cepdes Jakarta)Hai pemuda dan pemudi, engkau pembina hari kemudian. Orang mengatakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian. Jangan terima! Kita ini bukan sekadar pupuk. Kami lebih dari ...

Ruma Maida: Perjuangan Mendidik Anak Jalanan

Senin, 26 Oktober 2009

News image

Cerita bermuara pada perjuangan Maida.Ia ingin mempertahankan rumah tua tempatnya mendidik anak-anak jalanan di ibukota. Di film, Maida digambarkan sebagai gadis kikuk yang idealis. Bertah...