Nunun Daradjatun: Adang adalah Segalanya PDF Cetak E-mail
Testimoni
Jumat, 30 Januari 2009 07:02

 

 

Adang, demikian saya memanggilnya, sejak pertama mengenalnya sampai saat ini. Tiga puluh empat tahun lamanya saya mendampinginya ber dinas sebagai polisi. Perjumpaan kami berawal 37 tahun lalu. Dan sejak bertemu pertama kalinya, saya sudah memiliki perasaan bahwa dialah jodoh saya. Dialah yang akan menjadi suami saya dan bapak dari anak-anak saya. Sejak saat itu pula, hanya Adang yang ada dalam benak saya. "Saya harus mendapatkannya," tekad saya. Tekad ini menjadi kenyataan, dan sampai saat ini saya tidak pernah bosan mendampinginya.

Adang adalah teman, juga sahabat, sekaligus kekasih, suami dan kakak. Ia teman diskusi yang baik. Di saat lain kadang kami juga bertengkar. Itulah yang mewarnai kehidupan rumahtangga kami sampai kami dianugerahi empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan.

Adang dilahirkan sebagai orang yang cool, pendiam, serius dan amat disiplin. Saya dan anak-anak di saat-saat tertentu merasa takut padanya, padahal ia sama sekali tidak galak. Tapi yang be gitulah, kami semua segan dan hormat padanya. Dia sangat menyayangi keluarganya, tetapi (ini kelemahannya!) tidak ada satu koneksi pun yang kami dapatkan lewat dia. Padahal kami, keluarga-nya, kadang menginginkan mendapat fasilitas dari jabatannya. Sesuatu yang tidak mungkin di­berikannya, walaupun kami pantas untuk mem perolehnya. Selain sangat disiplin, ia juga jujur dan baginya menjadi Abdi Negara adalah hal paling utama.

Mungkin sulit dipercaya bahwa anak-anak ti dak pernah mengetahui meja ayahnya di kantor seperti apa, duduknya di sebelah mana. Sejak awal Adang menggariskan bahwa pekerjaannya tidak boleh dikutak-kutik. Jadi di meja kerja di rumah, saya sama sekali tidak pernah berani memindah kan berkas atau apapun yang ada di meja. Saya juga tidak pernah membukanya, karena ini telah digariskannya sejak awal, dan saya menyepakatinya. Maka saya juga tidak pernah tahu apa isi mapnya, apa yang sedang dikerjakannya, apa yang sudah diputuskannya, kecuali bila ia mencerita kannya.

Maka bagi saya dan anak-anak, Adang adalah sumber inspirasi, tempat bertanya, sekaligus te ladan yang pantas kami ikuti. Dia mendidik kami bukan dengan anjuran atau perintah, tetapi de-ngan memberikan contoh. Ia selalu bangun pagi lalu shalat subuh, ia berolahraga dengan teratur, ia sangat menghargai waktu hal-hal yang seyog yanya kami ikuti dan laksanakan dengan baik.

Sesibuk apapun dia, (seperti saat menjadi aju dan MenPangab) ia selalu menyempatkan diri sepulang dari tugas, memeriksa kamar anak-anak. Ini cermin dari ia khawatir bila terjadi sesuatu dan ia tidak mengetahuinya.

Ketika anak-anak sudah mulai dapat diting gal, saya mulai berwiraswasta dan Alhamdulillah, berkat anugerah Allah SWT dan bimbingan Adang, kami berdua dapat mensinergikan dengan baik kedua tugas kami. Apa yang saya terima adalah rejeki bersama karena saya percaya Allah mem berikannya kepada saya karena saya menjadi istri Adang. Saya yakin betul, anugerah dan kesempurnaan hidup itu saya dapatkan karena saya menjadi isterinya.

Saya sering meledeknya "Kapan jadi bos?" mengingat sejak dulu ia terbiasa berangkat kan tor sebelum jam tujuh pagi. "Kok jadi prajurit terus?" kata saya yang selalu disambutnya de-ngan senyum, namun ia tidak merubah kebiasaan itu sampai sekarang. Soal disiplin dan tertib ini tidak hanya menyangkut jam ke kantor, tetapi sampai hal-hal kecil seperti apakah sendok garpu dan makanan betul-betul cukup, pada saat kita mengadakan pesta di rumah. Ia memeriksa satu per satu dengan teliti. Ini kadang membuat saya stress.

Pengabdiannya pada pekerjaan sungguh luar biasa. Adakalanya membuat kami kecewa, Tapi begitu menyadarinya, kami menjadi bangga oleh sikapnya. Sewaktu ketiga anak kami berseko lah di Amerika, tidak sekalipun ia mengunjungi mereka, juga saat mereka diwisuda. Kecuali satu kali, yaitu saat ia melakukan perjalanan dinas ke Amerika, dan ia menyempatkan diri mampir. Be gitu juga dengan ibadah Haji. Selama mengabdi 34 tahun, ia baru sekali menunaikan ibadah Haji, yaitu pada tahun 80an, itu pun karena harus me-ngantar ibu saya yang pergi sendiri dan ia menjadi muhrimnya.

Itulah Adang sekilas, yang tidak pernah me nyakiti hati orang lain, tidak ingin merugikan orang lain, juga tak pernah memaksakan kehen dak. Adang yang sangat disiplin, correct, dapat menerima kritik dan mencernanya dengan kepala dingin. Adang yang selalu mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain, sekalipun berbe da dengannya. Ia tegar saat mendapat cobaan, bah kan juga bila difitnah. Ya Adang yang tidak pernah saya panggil ‘Kang' atau ‘Papa' sejak pertama kali mata dan hati kami bertemu sampai saat ini, ketika usianya menginjak angka lima puluhtujuh.


AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Jenderal Low Profil

News image

Jakarta - Pak Adang ini adalah jenderal yang low profil. Tidak banyak jenderal yang saya lihat seperti Pak Adang ini yang terlihat kalem dan sangat me...

Selasa, 13 Oktober 2009

Pak Adang Orangnya Lembut Seperti Pak Hidayat

News image

Jakarta - "Aneh, kenapa Anda tidak menjadi Gubernur, ya? Kata Ketua umum MURI Jaya Suprana kepada Adang Daradjatun. Ucapan ini disampaikan sewaktu pen...

Minggu, 21 Juni 2009

Adang Berjiwa Besar

News image

Adang Daradjatun, di mata Bapak Ali, tokoh masyarakat RT. 007/08, Pesing Koneng, sebagai sosok berjiwa besar.Sikap tersebut menurut Ali, ditunjukkan A...

Selasa, 12 Mei 2009

next
prev